Krisis Iman Masyarakat Muslim Indonesia, Tuduh Diri Sendiri Terlebih Dulu

Semakin sering kita temui orang yang menyampingkan agama dari kehidupannya tapi tetap mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Muslim yang tidak puasa, tidak shalat, tidak mengaji; hanya mengaku muslim karena Islam telah menjadi identitas dari dirinya, hanya karena dia dibesarkan dalam norma-norma agama Islam. Hari ini, orang-orang yang shalat lima waktu – berjilbab atau tidak berjilbab, berjanggut atau tidak berjanggut – adalah termasuk orang-orang yang ditahbiskan paling shaleh dan shalehah di lingkungan bermasyarakat, padahal tiada yang istimewa dari hal tersebut karena shalat hukumnya adalah fardu ain, super wajib tidak kenal kondisi. Meskipun secara kuantitas Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, secara kualitas faktanya berbanding terbalik. Masyarakat muslim di Indonesia sedang berada dalam krisis keimanan akut yang mengkhawatirkan. Dalam menganalisa fenomena krisis keimanan ini, seringkali ditemui banyak muslim secara agresif menyalahkan aktor dan faktor intra-Islam tanpa terlebih dahulu berusaha menganalisa bobrok di tubuh sendiri.

indonesia_muslim

Untuk memahami krisis keimanan masyarakat muslim Indonesia, diperlukan pengetahuan atas apa yang terjadi dalam kelompok masyarakat Islam selama beberapa tahun belakangan ini. Hal ini dapat dimulai dengan memahami kondisi kualitas keimanan masyarakat muslim Indonesia saat ini, mengidentifikasi aktor-aktor dalam inter-muslim dan mengamati cara tiap aktor saling berinteraksi. Pertama-tama harus diakui bahwa dalam tubuh masyarakat muslim terdapat kelompok orang yang sama sekali tidak relijius tapi mengaku muslim. Kelompok ini adalah orang yang tidak berprinsip teguh, tidak totok memihak antara hitam dan putih, Islam dan tidak Islam; mereka adalah kelompok abu-abu. Dalam masyarakat muslim Indonesia, kelompok abu-abu ini adalah mayoritas dari jumlah populasi.

Mereka terbagi lagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kritis yang rata-rata cerdas, pintar dan gemar berpikir praktikal; tricky untuk dipengaruhi, gampang-gampang susah. Dalam hal beragama, golongan kritis mempertanyakan banyak hal tentang Tuhan, asal-muasal terciptanya alam semesta, kandungan isi ayat Qur’an, hukum-hukum Islam, sejarah Islam dan hal-hal bersifat metafisika yang secara logika tidak dapat diyakini tanpa pemahaman dan keyakinan atas iman terhadap Islam. Golongan kedua adalah golongan masa bodoh, golongan ini sangat mudah dipengaruhi dengan jargon-jargon persuasif dan strategi carrot and stick andalan pemuka agama. Golongan kedua lebih banyak jumlahnya dari golongan kritis.

Kelompok kedua adalah para pemuka agama dan orang-orang relijius yang kerap kali melabeli diri sebagai Islam aliran Sunni. Kelompok ini memiliki tanggung jawab Maha Berat untuk mengedukasi kelompok abu-abu untuk kembali mempelajari Islam, yaitu Islam yang toleran terhadap situasi sosial-politik-budaya di Indonesia. Tanggung jawab para pemuka agama dan orang-orang relijius dikatakan berat karena mereka harus melakukan pendekatan yang elegan dan diplomatis secara ajeg dan konsisten untuk menumbuhkan masyarakat muslim yang sadar agama dan istiqamah; masyarakat muslim yang tidak labil, yang sehari shalat besok tidak, hari ini yakin terhadap ajaran agama besok mempertanyakan eksistensi Tuhan, hari ini sibuk mengaji Qur’an dan hukum-hukum Islam besoknya masa bodoh. Tiap-tiap pemuka agama dan orang relijius memiliki tugas untuk menumbuhkan kesadaran beragama yang stabil, pemahaman agama yang dapat diterima oleh akal dan iman, dan hal ini membutuhkan waktu serta strategi rumit untuk dilaksanakan.

Abdul Qodir ‘Audah, salah seorang ulama besar Mesir pernah berkata, kemunduran umat muslim saat ini disebabkan Islam berada di tengah-tengah kebodohan umatnya dan ketidakmampuan ulama-ulamanya.

Kondisi yang terjadi dalam tubuh masyarakat muslim Indonesia saat ini adalah para pemuka agama dan orang-orang relijius sibuk berpolitik dan malas dalam melakukan strategi pendekatan yang elegan dan diplomatis secara ajeg dan konsisten untuk menarik kelompok abu-abu kembali mempelajari Islam dan memiliki kesadaran iman yang stabil. Para pemuka agama dan orang-orang relijius hampir setiap waktu melakukan pendekatan carrot and stick serta pendekatan-pendekatan lain yang hasilnya tidak signifikan untuk membuat orang untuk ‘kembali’ ke Islam dan menyetujui ide bahwa sebagai seorang muslim diperlukan kesadaran beragama dan keberimanan yang kuat. Carrot: “Lakukanlah hal A sesuai menurut pendapat saya, maka kalian akan mendapatkan banyak pahala dan masuk surga.” Stick: “Jika tidak A sesuai menurut pendapat saya, maka kalian akan berdosa masuk neraka.” Strategi lainnya adalah, Labelling: “Kamu ini muslim atau bukan, kok tidak melakukan hal A sesuai dengan pemahaman saya akan sesuatu?” atau Accusation: “Kamu tidak melakukan hal A, maka kamu bisa jadi golongan Kafir! Syiah! Munafik!”

Keempat strategi tersebut adalah strategi umum dari para pemuka agama dan orang-orang relijius dalam masyarakat muslim Indonesia – strategi kacangan impulsif, tidak sabar, tidak hati-hati dan bodoh dari orang yang malas bertindak dan berpikir. Carrot and Stick mungkin dapat mengembalikan golongan masa bodoh dari kelompok abu-abu untuk kembali mempelajari Islam, namun bukan didasari oleh kesadaran beragama dan keberagamaan yang kuat, melainkan ketakutan dan harap. Selain itu strategi ini dapat menciptakan kelompok muslim radikal dan militan yang rela mengorbankan akal dan pikiran hanya dengan doktrin hitung-hitungan pahala dan dosa, surga atau neraka. Hal ini jelas tidak akan menyembuhkan krisis keimanan kelompok abu-abu, boro-boro memperkuat Islam. Tidak adanya penerimaan dari ide-ide atas mengapa kelompok abu-abu perlu untuk kembali menumbuhkan iman dengan mempelajari agama hanya akan menciptakan generasi muslim yang tidak stabil. Strategi labelling dan accusation apalagi, kedua strategi ini hanya membuat orang menjadi defensif dan tidak mau mempelajari Islam karena kenyinyiran dan ketidakramahan tidak membuat orang betah berlama-lama tinggal dalam suatu kelompok. Hal ini justru berbahaya, khususnya untuk golongan kritis dalam kelompok abu-abu, karena bisa jadi mereka lebih memilih untuk meninggalkan Islam sama sekali.

Kecacatan cara berinteraksi antara aktor-aktor dalam masyarakat muslim Indonesia ini dapat dibenahi dengan pembenahan kualitas dakwah dan komunikasi. Alih-alih terus-menerus melakukan empat strategi tidak efektif dan justru berbahaya meningkatkan krisis iman yang telah disebutkan sebelumnya, para pemuka agama dan orang-orang relijius dalam masyarakat muslim Indonesia dapat melakukan strategi-strategi pendekatan yang lemah lembut, elegan dan diplomatis; tentunya diimbangi dengan kajian materi pendidikan agama Islam yang luas, tidak memaksakan kehendak dan toleran terhadap situasi sosial-politik-budaya masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Strategi pendekatan yang berkualitas tentu membutuhkan pemikiran dan eksekusi tindakan yang hati-hati, ajeg dan konsisten; semua aktor dalam tubuh masyarakat muslim Indonesia harus bekerja keras dalam membangun hal ini. Tidak ada cara instan dan mudah, semua membutuhkan waktu dan usaha besar. Namun mimpi ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Mungkin suatu hari nanti masyarakat muslim Indonesia dapat hidup tenteram dan damai karena kesadaran beragama dan keberagamaan yang kuat dan stabil dari dalam jiwanya, dan berhenti menuduh aktor-aktor beragama lain menzhalimi dirinya tanpa melihat bahwa bobrok yang sesungguhnya ada dalam tubuh diri sendiri.

Advertisements

About Adisty Anissa Rizanty

Latihan menulis.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s