4 Puisi Lama

Niat

Tanpa niat untuk terlihat, kau adalah jelas bagiku
Bagai rontokan kemboja merah jambu
jatuh mesra di beranda

rumahku,
dulu adalah sejenis penaungan yang tak kan habis digerogot zaman

Sebab aku dan hujan telah sepakat untuk iseng menggurit dendam
dalam enggan. Diam yang tak berkesudahan, lalu
jika kau sudah berampas jadi debu, jangan pernah lupa nama wajah bayangku

kerling
pagut
rengkuh

luka?

gelung rambut

Kegenitan menggurat
bukti kita pernah jadi jasad.

(pasca hujan banter, Januari 2012)

Pandir

Begitu malam datang, aku langsung berkarib dengan kata. Tak ada hiburan lain lebih menarik rupanya. Dan telah kuputuskan malam ini aku harus belajar menulis. Seburuk apapun tulisanku, sekecut apapun aku dibenak kalian. Aku harus menulis.

Perkenalkan, aku, anomali kalian. Jika mungkin bagiku hidup belantara, aku pilih begitu. Bebas dan sejauhnya dari kota ini aku pasti lebur dengan alam. Namun selamanya aku anak ibu dan bapakku, dan mereka menghendaki aku ambil bagian di peradaban.

Menekurkan sepi dan hatiku damai permanen, seperti sawah kuning habis panen. Menyuburkan perut-perut desa, memakmurkan kota. Dan ketika ladang dibakar, menjelantahkan langit. Adalah hatiku juga menggegap, lalu padi ditanamkan kembali, dan ia ikut hijau lagi.

Seperti Tuban, aku takut sendiriku jatuh ke kuasa orang. Sebab aku bukan ningrat, bukan bendoro. Aku sahaya, tapi menghendaki diriku sebesar Tuban sebelum zaman atas angin datang ke bumi lewat selatan. Aku bercita menjadi pembesar bagi diriku sendiri. Di dalam kepalaku, aku membuat kerajaan atas diriku dan tentu aku ningrat tertinggi. Seorang raja.

Sebab aku adalah kerajaan dan raja membutuhkan patih, maka aku menghendaki patih yang setia dan cakap maka telah turunlah titahku kepada tiap-tiap bulir darah dan gurat-gurat nadiku, siap mati demi aku. Mereka jadi patih karena darahku darah raja.

Tiada raja tanpa rakyat, aku tentu harus memiliki rakyat yang harus kusokong dan mereka harus cinta aku. Maka aku suburkan pikiranku dengan apa saja yang mampu aku baca dan beri pada kerajaanku melalui tulisan-tulisanku. Betapa buruknya itu. Busuk bisa jadi, tapi rakyatku mutlak harus cinta aku.

Barangkali aku titisan Ken Arok menjelma wanita dan Majapahit menjelma kerajaan dalam pikir, hanya dalam pikirku. Jika begitu maka aku harus punya selir banyak, wanita berselir seratus diri sendiri jika mau. Tapi dari selir-selirku itu akan tumbuh pinakan-pinak baru walau mengancam diriku sendiri, kerajaanku. Karena aku lupa nama mereka, dari biang-biang yang mana dan mereka haus harta hanya sebab darah raja. Tidak cukupkah kuangkat mereka yang cakap jadi bupati hati dan mereka minta jantung? Maruk. Aku harus selamatkan kerajaanku, sebab aku adalah raja. Mereka harus takut aku.

Kerajaan selamanya membosankan tanpa taklukan. Dan aku mengintai kalian sekarang dalam tidur. Jaga kerajaan kalian, aku mau rebut diam-diam. Kalian harus takluk oleh karenaku dan malam. Bandar harus ramai, syahbandar dan patih beserta balatentara sudah dipersiapkan. Bagaimana pasukan gajahku? Buat mereka melihat dalam gelap ganti dengan mata kucing, ganti taringnya lahar mortar. Susupi jiwa mereka dengan sebul bermantra jin goa-goa dasar gunung halimun. Agar jangan hanya tercenung remuk dihembus-hembusi malam. Ya! Sebelum kalian kirim patih sampaikan titah balik menyerang, aku sudah robekkan kerajaan kalian pecah menjelmai panca. Aku bunuh rajanya dan aku angkat diriku jadi raja dan rakyat. Dan selamanya aku hidup didalamnya berselirkan seribu diri sendiri jika mau.

(November, 2011)

Aku dan Aku Saja Rupanya

Mungkin benar adanya terlalu banyak makan bermuara pandir jadinya, sebab aku rasakan demikian

kacau!

Berdering telepon, ratus?

pesanmu masuk selayar teleponku. Begitu keringnya
kau, mirip hujan membenturi tebing-tebing karst. Diam-diam membuat keropos.

Gila. Dan kita harus mengaku bahwa telah pernah saling tergila-gila.
Entah bagaimana caranya serupa
surga dan kini kita mancal oleh karena kenang selamanya tak doyan kekal.
Aku rasa semua dimulai ketika orang bertutur jangan ada awal, sebab adalah akhir selalu mengekor meski tak punya buntut.

Lalu kita mancal ke tentang, setuju tidak saling melihat dalam terang. Sepakat tak bicara meski hanya dalam gamang. Lalu,

kudapati tak lagi telepon dan pesanmu menggenangi pikir, belakangan hanya hujan menggenangi kubang berpelesir.

Sering aku menerima duka dengan tangan kosong. Duka
siapa berani sembarang menyelasar? Sebelum rambutku seluruhnya perak, aku
mau penjelasan duka kiriman siapa ini? Lalu diam
dan diam saja.

Ya.

Jika saja sukma ikhlas cerai dari raga mungkin Ia juga tak seduka itu.

Mahir rupanya aku sekarang bermonolog dan semua lunas aku jumput dalam sunyi.

Didalamnya ada
kenang yang telah lewat, ada bincang dengan orang yang telah mati, ada
rindu yang selembut adas. Seluruhnya tak berbalas.

Dan ketika aku terbangun dari bumi nyata, aku
hanya mampu bersamamu lewat reka-reka.

(Desember, 2011)

Desember dan Wanita Takut Winter

Bagaimana dapat kutanggalkan tubuh jarang di jejak tanah basah? Padahal tak serintik pun hujan jatuh menengadah sebaik pinggul penari melenggok pongah.

Berpasang mata sibuk bertransaksi dalam gelap, menimang ragu dalam samar-samar aman.

Bising adalah bagian yang tak tamat-tamatnya diselasari sebab adalah muasal kami bernaungkan damai. Setelah itu dikeloni sunyi yang aman meski tak selamanya mencukupi.

Aku, kau dan mereka tak suatu pun ada. Semua dilakukan atas nama cinta dan begitu adanya kita jadikan pembenaran. Pernah kubilang padamu bahwa kelak kita bangunkan si waktu yang rakus itu agar jangan menembagakan rambut, tapi kemudian ia datang bersekutu maut. Apakah kita pernah bosan berpagut? Tak perlu menjawab jika takut.

Dan dilorong bising ini kembali daging jadi dagangan, bibir menggumpal dihitamkan gincu murahan. Biar kita bareng mati perlahan. Melati menguarkan wangi neraka sebab tiap kepul dan kegenitan yang dihirup bercampur dosa, persetan sejak haram hanya sebuah konsep.

Kau mengenalku sebagai gadis dan seterusnyalah kau memujaku.

Jangan salahkan Tuhan sebab Ia hanya menjalankan sebaiknya peran. Kau pernah berhijab dan begini kenyataannya : manusia butuh makan. Kau, aku dan anak kita kelak adalah manusia. Aku pergi atas nama pembenaran.

Sudah terkantuk-kantuk disini berdiri berkawan sepi, tak seperak pun menyebulkan dapur.

“Duduklah barang sebentar, aku buatkan kopi.”
Kau jawab dengan keletihanmu, namun
jangan salahkan Tuhan sebab demikianlah sebaik Ia berperan.

“Duduklah barang sebentar, mari aku temani.”

Kemudian barangkali hatimu luluh dan kita tidur dalam peluh. Hingga akhirnya matahari jatuh hati memendarkan sinar pertamanya lewat berkas genting. Hangat menyemburat di mukaku.

Itu sebagian, jawab dari segala-segala di batas kabur sejarah..

***

Untuk apa ada nama jika aku hanya sepotong daging? Dan kau,

kau tak lebih buduk dari anjing! Meloba-loba dengan liur seperti hujan mengisi waduk, tanggul-tanggul jebol.

Ini kali ke lima, kau dan aku beradu.

Aku memuntahkan bajumu karena panas dan cemas. Aku memuntahkan bajumu agar aku lupa ini kali ke lima dan kau entah dimana.

Orang-orang dibawah seliweran, rambutnya pirang mirip kerang ketimpa matahari, menatapku enggan namun bertubi-tubi. Sementara aku masih asyik, berteriakan dalam sunyi dengan bahasa yang barangkali mereka tak mengerti.

Bahasa anjing! Ya?

Maka selamanya adalah rahasia, jangan ditutur jika ragu. Bisikkan saja jika hendak merayu. Teriakkan juga dalam sunyi dan Ia akan aman kembali.

Ya. Bahasa anjing!

Bule-bule itu menatapku enggan dan buru-buru mengalihkan pandang sebelum mataku ketemu mata-mata cucuk mereka. Aku marah sebab mataku sedikit basah dan aku maki mereka seluruhnya dengan tatapanku jika kebetulan beradu.

Pemandangan menarik di suatu pagi awal summer, jarang agaknya wanita berwarna dengan rambut legam mencak-mencak di balkon rumah sewanya. Mondar-mandir.

Dinding lemur mengelotek kena panas.

Membuntal-buntalkan baju lalu kemudian memuntahkan segala hingga tebar ke jalanan. Buyar.

Biar.

Biar dipungut gelandangan dan gembel yang pirang-pirang atau orang maroko yang jantungnya ketir-ketir berburu dengan polisi dan zaman.

Angin semi masih menyelirkan dingin dan tengkukku remang jadinya. Aku masuk, menutup jendela dua katup, meringkuk

dalam pembaringan sofa beludru merah jambu.

Persis bayi prematur dalam inkuban, pejam dan khidmat yang terlihat. Namun pikiranku sudah mancal jauh berkali-kali, mancal ke entah dan segala yang mungkin aku reguk dengan persiapan atau tanpa pertahanan.

Tapi yang paling sering, aku mancal menuju kau.

Sergio.
Sergio.

Sergio. Sergio.

Sergio!

Satu mantra dan ini kali ke lima, aku masih mabuk dalam sisa-sisa gelembung champagne saat kita berenang telanjang di dalamnya. Hangat. Tenggelam
dengan buih, berenang ke hulu lalu

ke tepi kemudian menyelam merentang semuanya

nekat telanjang.

Ketika sumbat dibuka.

Plop!
Kita hambur bersama menuju udara, mendarat ke entah siapa peduli akan hari kemarin. Nafasmu hangat. Begitu bahagianya

mendengar, Plop! Dan kita gugur

hambur seperti daun kembang sepatu jatuh bersama hingga pagi selanjutnya.

(Desember, 2011)

Advertisements

About Adisty Anissa Rizanty

Latihan menulis.
This entry was posted in Feelings, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s